Minggu, 25 Oktober 2009

gadis cantik

Pertama-tama saya ingin memperkenalkan diri, saya seorang mahasiswa sebuah universitas swasta di daerah Jakarta Barat yang terkenal banyak menghasilkan lulusan di bidang IT. Sebut saja saya Nick (nama samaran, tentu saja !!). Saya sendiri menganggap penampilan fisik saya tidaklah istimewa, biasa biasa saja, hanya saja banyak yang mengatakan kalau saya memiliki mata tajam seperti elang (beberapa teman menyebutnya mata bandit yang sedang mengincar korbannya, tak apalah :P) dengan tinggi yang rata-rata (176/71 kg). Sekarang ini saya bekerja part time di sebuah toko komputer kecil yang didirikan patungan dengan bekas teman teman SMA saya.
Cerita ini merupakan pengalaman saya bertemu dengan wanita yang memiliki tempat khusus di hati saya, sampai kapan pun juga. Bagi pembaca yang menyukai cerita 'tembak langsung' mungkin akan kecewa dengan cerita ini karena cukup panjang dan kurang 'berapi-api'. Jadi bila anda merasa bosan, silakan melewatkan cerita ini, sedangkan yang ingin tetap membaca, saya ucapkan selamat membaca.

Suatu hari di bulan November, lewat tengah hari.

Hujan turun dengan derasnya dari pagi sehingga memnyebabkan kemacetan di kota Jakarta yang memang biasanya macet menjadi semakin padat. Nick mengawasi keadaan sekeliling dari balik kaca jendela Feroza hijau toska berkilat yang setia menemaninya sejak SMA. Sia-sia, tirai hujan terlalu pekat ditambah lagi langit mendung sehingga tidak memungkinkan mata minus satu-nya melihat lebih jauh dari 2 meter. Karena terburu-buru tadi kacamata Nick tertinggal di kantor. Hari ini Ia kebagian jatah untuk menanggapi complaint seorang customer di daerah Kebon Sirih.
Karena hujan tidak juga mereda, ditambah macetnya jalan dan perutnya yang mulai menjerit minta di-isi maka Ia mengarahkan mobilnya memasuki Wisma GKBI. Di dalam restoran Hoka-Hoka Bento yang sepi ia memandang berkeliling, lalu melangkahkan kaki menuju ke arah counter. Setelah memilih sepiring salad, sup miso, seporsi Ekkado dan segelas lemon tea, Nick menuju kasir untuk membayar pesanan-nya.

Ia mengantri di belakang seorang gadis berusia 20-an. Tanpa kacamata pun Nick bisa melihat betapa menariknya gadis itu. T-shirt Armani hitam ketat membungkus tubuhnya yang langsing, dipadu dengan celana jeans biru tua dan sepatu high heel bertali, menunjukkan mata kaki dan punggung kaki yang putih bersih. Kuku bersih tanpa kuteks menambah keindahan alami kakinya yang panjang dan ramping, tipe kesukaan Nick. Rambutnya yang hitam dijepit ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang dengan rambut halus tenguknya.

Dari balik bahu gadis tersebut, tampak petugas kasir kebingungan mencari kembalian untuk secangkir kopi pesanan gadis tersebut yang dibayar dengan uang bergambar Bung Karno dan Bung Hatta.

Melihat kebingungan petugas kasir, Nick maju ke depan cash register.
"Sekalian saja masukkan dalam pesanan saya, mbak".
Gadis itu memandang Nick dengan tatapan aneh, tapi akhirnya ia mengedikkan bahu dan berjalan ke arah luar pagar besi antrian.
Nick membayar pesanan-nya dan berjalan ke arah meja dekat jendela dimana gadis itu duduk.

"May I ??" tanyanya, mengisyaratkan kursi kosong di seberangnya.
Seabad rasanya Nick menunggu ketika gadis itu menatap matanya dalam-dalam, sebelum menggerakkan kepalanya ke arah kursi kosong sebagai tanda bahwa ia tidak keberatan.
"Thanks for the coffee" katanya. Suaranya jernih, ada kesan sedih yang sulit dijelaskan di dalamnya.
"No big deal" senyum Nick. "Enjoy your coffee" sambungnya.

Di luar, hujan masih saja turun dengan deras. Nick menikmati makanannya dengan suapan-suapan kecil yang tidak terburu buru, sedangkan si gadis sesekali menghirup kopinya lalu melanjutkan lamunannya. Di antara suapannya Nick memperhatikan hujan di luar gedung. Beberapa orang pengojek payung menunggu di Pintu Utama. Pikirannya kembali beralih ke hujan di luar. Tetes air hujan jatuh menimbulkan bunyi ritmik yang aneh, tapi menyenangkan. Seperti nyanyian.

"Nyanyian hujan" gumam si gadis.
Hampir saja Nick tersedak karena tepat pada saat itu ia sedang mendengarkan irama aneh menyerupai nyanyian yang ditimbulkan tetes air hujan ke jalanan aspal.
"Aneh" Nick menatap gadis tersebut dengan pandangan bertanya. "Aku baru saja memikirkan hal yang sama".
"Aku suka hujan. Mereka seperti bernyanyi untukku" kata si gadis, pandangan mereka bertemu.

Gadis itu mengangkat kedua tangannya ke balik kepalanya untuk membetulkan jepit rambutnya. Gerakan ini membuat dadanya membusung, memperlihatkan siluet dua buah bukit yang tidak terlalu besar, namun berbentuk indah di balik bajunya. Ia melakukannya dengan bebas, seakan-akan tidak menyadari keberadaan Nick yang sedang memperhatikannya.

Nick baru sadar betapa menariknya wajah di hadapannya. Seraut wajah bertulang pipi tinggi, menimbulkan kesan anggun, dengan hidung mancung dan bibir yang merah basah. Dan matanya, belum pernah Nick begitu terpesona melihat mata seorang wanita seperti sekarang ini.
Mata gadis itu agak sipit dengan sedikit garis lengkung di ujungnya, menimbulkan kesan misterius. Ditambah lagi dengan sorot matanya yang menyiratkan kematangan yang tidak biasanya ada pada gadis seumurnya. Pun begitu, ada keceriaan dan gairah hidup yang memancar dari sinar matanya, seakan-akan mengajak orang di sekitarnya untuk tersenyum seandainya saja tidak ada secercah sorot kesedihan di sana. Begitu kontradiktif, pikir Nick. Dan sangat menarik, tambahnya dalam hati.

"Nick" katanya sambil mengulurkan tangan. Dalam hati ia menyumpah mengapa sampai lupa memperkenalkan diri sebelumnya.
"Tessa" sambutnya lembut. Seperti ada aliran listrik ketika tangan mereka bertemu, sesuatu yang baru dua kali di alami Nick selama hubungannya dengan wanita-wanita dalam hidupnya.
Setelah perkenalan tersebut, percakapan pun berjalan lancar. Ternyata Tessa memiliki wawasan yang luas sehingga enak di ajak ngobrol, layaknya mereka teman lama saja. Nick mengagumi keluwesan Tessa dalam bergaul, jelas bukan golongan remaja tanggung yang masih mentah seperti kebanyakan gadis-gadis seumuran Tessa pada umumnya. Entah mengapa, Nick merasa tertarik sekali pada gadis ini. Padahal baru kali pertama mereka bertemu.

Hujan akhirnya berhenti. Tessa menatap ke luar restoran, kegiatan di jalan mulai hidup kembali setelah matahari bersinar mengusir sisa-sisa hujan tadi.
"I gotta go, thanks for the coffee" Tessa bangkit dari kursinya. Mengulurkan tangan kepada Nick. Setiap gerakan gadis itu begitu luwes, menimbulkan desir aneh di hati Nick
"Nice to meet you, Tessa. Have a nice day" sambut Nick.
Nick masih termenung sesaat ketika menyadari Ia lupa menanyakan nomor telepon Tessa. Gadis itu sudah hampir mencapai pintu ketika dengan setengah berlari NIck mengejarnya.
"Boleh aku meneleponmu kapan kapan ?" tanyanya.
"Sure, you can call me anytime". Tessa menuliskan 11 digit nomor teleponnya pada selembar struk pembayaran yang disodorkan NIck. Kemudian Ia meneruskan langkahnya setelah melemparkan senyum manisnya.

Perkenalan itu menjadi awal hubungan mereka yang penuh liku, dimana tawa, tangis dan air mata akan mewarnai hubungan mereka.

*******

Suatu Hari Sabtu, 3 bulan kemudian. 3:29 pm.
Nick termenung di tempat kos-nya. Hujan turun deras di luar. Membuat ritme aneh dengan suara tetes hujan yang menimpa atap genteng dan jalanan beraspal. Ia teringat pertemuannya dengan Tessa beberapa hari yang lalu. Sudah 2 minggu Ia tidak menghubungi Tessa karena ada pekerjaan yang membuatnya sangat sibuk di kantor. Hampir tanpa berpikir Ia menyambar HP Nokia 5510 silver yang tergeletak di atas meja. Setelah ragu sesaat, akhirnya dorongan hatinya yang menang.

"Halo ?" di ujung sambungan terdengar suara lemah menyahut. Suara yang tidak akan terlupakan oleh Nick.
"Tessa, remember me ??".
"Nick, is that you ?" setelah beberapa detik Tessa terdiam, mencoba memeras memorinya yang masih kabur, mencari siapa pemilik suara bariton yang mengganggu acara tidur siangnya.
"Yupe. How are you girl ??".
Terdengar suara tawa gadis itu, yang terdengar begitu sexy di telinga Nick, sebelum menjawab.
"Ngantuk. Kamu kan tahu jam segini termasuk dalam jam tidur siang-ku".
"I know, sorry to wake you up dear. But I can't help it, i wanna hear your voice."
Sesaat mereka berdua terdiam.
"I miss you girl" bisik Nick lembut.
"oooh Nick, I miss you too" balas Tessa pelan.
Nick tercekat. Benarkah suara Tessa bergetar tadi ?
"Nick, mau main ke sini ?? kita ngobrol sambil minum kopi".
"Takkan ada yang bisa menghalangiku menemuimu Tess. Give me an hour ok ?".
Terdengar lagi tawa Tessa, "nggak usah mandi dulu Nick, langsung aja ke sini".
"Hehehehehe....ketahuan yah. OK, wait for me then".

Setelah menutup telepon Nick meraih tas ransel yang sudah menjadi trade mark-nya sejak SMA dulu. Isinya macam-macam mulai dari baju ganti, underwear, satu stel kemeja, dasi, perlengkapan mandi, pisau cukur beserta aftershavenya, Charger, sebuah kotak plastik berisi satu set obeng mikro, pinset, senter elastis, dan tang serbaguna. Dan tak lupa sebotol Drakkar yang sudah hampir habis. Sejak SMA Nick sering harus bepergian tanpa pulang ke rumah sehingga ia selalu membawa keperluan-nya dalam ransel tersebut. Apalagi sejak Ia bekerja part timer, bertambah lagi isi ranselnya dengan satu set peralatan untuk perbaikan kecil bila dibutuhkan pelanggan sewaktu-waktu. Dengan agak tergesa Ia melompat masuk dalam mobilnya.
Nick memacu mobilnya secepat Ia bisa dalam hujan yang masih juga turun dengan deras. Kacamata minus satunya telah berganti dengan softlens berwarna hijau tua yang biasanya hanya dipakai bila ada acara pesta.

Sampai di rumah kontrakan Tessa, setengah berlari Nick membuka gerbang. Tidak dikunci, seperti biasa. Lalu Ia menuju pintu utama dan memencet bel. Pintu terbuka dan Tessa tersenyum menyambutnya.
"Ayo masuk, sudah kutungguin dari tadi".
Nick mengikuti Tessa menuju kamar tidurnya. Dingin. Rupanya Tessa menyalakan AC-nya walaupun hari hujan seperti ini.
Tessa menutup pintu kamar dan berbalik menghadap Nick. Entah siapa yang mulai, tahu tahu mereka sudah berpelukan erat. Nick berbisik di telinga Tessa berulang-ulang.
"Oooooh Tess, I miss you. Miss you so much".
Hanya gumaman terdengar dari Tessa. Nafas Nick yang hangat di telinganya membuat badannya terasa menggigil.

Nick merasakan kehangatan mengaliri dirinya. Ia dapat merasakan tubuh Tessa yang lembut di dalam pelukannya. Hidungnya menangkap aroma tubuh Tessa yang merangsang. Halusnya kulit pipi Tessa bertemu dengan bibirnya. Tahu-tahu Nick mendapati dirinya ereksi. Kemaluannya menekan perut Tessa. Pastilah Tessa merasakannya sebab Ia melepaskan diri dari pelukan Nick.
"Naughty boy, what's on your mind eh ?" Tessa tersenyum menggoda kepada Nick.
"Sorry, aku gak tau kenapa. Tahu-tahu aja berdiri" ujar Nick dengan muka sedikit merah.
Bukan hanya kali ini Nick ereksi ketika sedang bersama Tessa. Pernah ketika sedang melantai pada suatu pesta yang mereka hadiri bersama Nick juga ereksi. Waktu itu Tessa tak henti-hentinya menggoda sampai Nick salah tingkah.

"It's okay. Tess tahu koq kamu nggak pernah kurang ajar sama Tess" katanya. Lalu ia kembali memeluk Nick lembut dan menyandarkan kepalanya di dada Nick.
"Tess......" tahu tahu jemari lentik Tessa sudah berada di bibirnya.
"Sssshhhh, it's okay Nick. I don't mind" Ia lalu menarik leher Nick. Perlahan bibir mereka mendekat. Nick bisa merasakan bibir Tessa yang lembut bergetar ketika mereka berciuman dengan lembut. Lidah Tessa menyapu bibir Nick, memberikan sensasi yang luar biasa. Hangat, basah, perlahan lidah mereka saling mencari, membelit, bermain dalam mulut Nick. Terdengar keluhan Nick. Ia tak dapat menahan gejolak dalam dirinya lebih lama lagi.

"I want you, please don't torture me any longer. I want you" desah Nick di antara ciuman mereka. Tessa mulai membuka kancing kemeja Nick satu per satu.
"I want you too, Nick. I'm yours" bisik Tessa di telinga Nick.
Kemeja Nick sudah terlepas, sekarang ia bertelanjang dada. Tangan Nick menyelinap ke balik T-shirt longgar yang dikenakan Tessa. Halusnya kulit punggung Tessa di tangannya. Dengan lembut Ia melepas T-shirt longgar tersebut. Tampak olehnya dua bukit putih yang tidak terlalu besar, tapi proporsional terbungkus half-cup bra berwarna pink. Dibelainya bahu Tessa yang telanjang, Ia bisa merasakan betapa Tessa menggigil taktala belaian tangannya mencapai belahan dada yang sangat indah tersebut. Nick mulai menjelajahi lehernya dengan kecupan-kecupan lembut diringi desah tertahan dari Tessa. Tangannya meraih kebelakang punggung dan dalam sekejap dada indah itu terbebas dari belitan bra. Dinginnya AC membuat sepasang puting kecoklatan itu berdiri tegak, menantang. Dikulumnya kedua puting itu bergantian, dihisapnya dengan lembut. Terdengar Tessa mengerang tak terkendali.

Sementara itu Nick merasa tiba-tiba kaki dan pahanya dingin. Rupanya Tessa sudah berhasil membuka celana Nick dan sekarang sedang mengelus kemaluan Nick yang meronta-ronta di balik celana dalam Bodymaster Nick. Tangannya menyusup masuk dan membelai, mengelus kejantanan Nick, lalu menyusur turun ke arah anus, melewati dua buah bola yang diremasnya lembut. Nick mendesah penuh kenikmatan di tengah kegiatannya membelai seluruh tubuh bagian atas Tessa yang kini telanjang. Dengan satu gerakan tiba-tiba Tessa mendorong Nick hingga jatuh terlentang di atas ranjang. Lalu satu gerakan lagi, dan kejantanan Nick berdiri dengan gagahnya tanpa adanya penghalang.

Perlahan, Nick memeluk Tessa dan membalikkan tubuhnya sehingga kini Nick berada di atas. Nick menggeser tubuhnya turun, tangannya membelai perut Tessa yang rata, sesekali menggelitik pinggangya sehingga Tessa meronta lemah. Dikecupnya perut dan pinggang halus itu, dengan lembut di lepasnya celana pendek yang dikenakan Tessa sekaligus dengan celana dalamnya. Kini mereka berdua telanjang bulat. Nick bisa melihat rambut halus yang tumbuh di bawah pusar Tessa. Tangannya bergerak mengelus bukit berambut tersebut, lalu bergerak ke bawah, ke arah kedua bibir vagina yang bertemu membentuk tonjolan sebesar kacang tanah. Diusapnya tonjolan itu dengan gerakan memutar dan menekan. Tubuh Tessa mengejang, punggungnya terangkat dari kasur. Dari mulutnya keluar rintihan halus yang membuat Nick makin bersemangat. Dikecupnya kedua paha bagian dalam Tessa, lalu dilanjutkan ke arah liang kenkmatannya. Tangannya kembali ke arah ke dua bukit di dada Tessa, di remasnya perlahan, jemarinya bermain dengan puting yang sudah sangat tegang. Dari pusat tubuh Tessa tercium aroma khas feromone yang membuat Nick begitu terangsang. Dirasakannya vagina Tessa sudah basah. Dengan satu gerakan perlahan tanpa putus dijilatnya liang kenikmatan bagian bawah sampai ke clitoris yang sudah membesar.
"Nick, mmmmmmhhhhh........... ohhhhhhhhh" tubuh Tessa menegang, pinggulnya berkontraksi dengan hebat. Ia mencapai orgasme pertamanya.

Nick terus membelai lembut sekujur tubuh Tessa sampai gelombang kenikmatannya mereda. Tessa lalu meraih bahu Nick, menariknya ke atas tubuhnya dan berbisik di kuping Nick.
"I want you inside of me Nick..." bisiknya lemah.
Nick berlutut di atas tubuh Tessa, siap untuk menyatukan tubuh mereka dalam gelombang kenikmatan. Tessa berbisik lagi.
"Pakai pelindung Nick, please..".
Nick meraih dompetnya dan mengeluarkan sebungkus Durex Premium, lalu memakainya. Never leave home without it, pikir Nick lega karena masih ada sebungkus di dompetnya.

Dengan sangat perlahan Nick menindih Tessa, sebelah tangannya menopang sebagian berat badannya sendiri, dihayatinya sensasi yang nikmat ketika kejantanannya memasuki Tessa.
Pandangan mereka bertemu. Dilihatnya ekspresi wajah Tessa dalam ekstase, serasa waktu berhenti bagi mereka berdua. Nick merasakan lampu di kamar Tessa memancarkan sinar berpendar warna-warni. Suara rintihan Tessa menjadi musik indah di telinga Nick. Mereka bergerak menyatukan irama tanpa tergesa-gesa. Nick merasakan dirinya terbang tinggi........, semakin tinggi seiring dengan nafas mereka yang memburu. Tessa pun merasakan kenikmatan yang sama. Semakin tinggi Ia melayang menuju puncak orgasmenya yang kedua. Mengerang dan merintih, Tessa bisa merasakan tubuh Nick mulai bergetar, demikian juga dengan tubuhnya. Mereka terbang semakin tinggi menembus gelombang kenikmatan, dan akhirnya menabrak awan yang mencurahkan hujan.........
Tessa menjerit berbarengan dengan erangan Nick yang mencapai puncak pada saat yang hampir bersamaan.

Hening. Peluh membasahai tubuh mereka. Keduanya saling berpelukan, membelai tubuh masing-masing. Menikmati sisa-sisa orgasme yang melanda begitu hebat. Tidak perlu kata-kata. Setiap rabaan dan usapan sudah berbicara dengan sendirinya. Bersatunya tubuh dan emosi membuat mereka mengerti apa yang dirasakan masing-masing. Di luar, hujan masih turun, makin deras bahkan.

"Nick, kau ingat pertama kali kita bertemu dulu ?" Tessa memecah keheningan yang terasa indah tersebut.
"Ya, waktu itu hujan deras seperti sekarang. Aku bertemu dengan seorang wanita yang luar biasa" jawab Nick. Ia menarik selimut menutupi tubuh mereka, kemudian mengecup kening Tessa lembut.
"Kau masih bisa mendengar nyanyian hujan, Nick ?".
"How can I forget ?? setiap kali hujan aku selalu teringat padamu".
"Always ?" tanya Tessa manja.
"Always".
"Kamu menyesal kita jadi seperti ini Nick ??" tanya Tessa lagi.
"Tidak Tess. Sejujurnya pernah terlintas dalam pikiranku bahwa aku memang menginginkanmu. Hanya saja aku tidak berani bertindak, takut merusak persahabatan kita. I think I fall in love......." Nick tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena jari Tessa sudah menutup bibirnya dengan lembut.
Don't say something you might regret it later, Nick". Suara Tessa tiba-tiba terdengar sedih.
"Tess sayang kamu, dan Tess juga tau kamu sayang Tess. Tapi untuk saat ini......let us be just friend. A good friend" ucap Tessa lagi.
"Tapi...." lagi-lagi kalimat Nick tergantung di udara, Tessa menciumnya dengan lembut, penuh perasaan. Seakan-akan Ia memberikan seluruh dirinya pada Nick melalui ciuman tersebut.
"Jangan bertanya-tanya lagi, Nick. Someday, I promise you, someday you will understand why".
bisik Tessa di telinga Nick.

Jeritan Coffee Maker membuat mereka berdua tersentak. Tessa tertawa, suaranya sudah biasa lagi. "Itu kopi yang kujanjikan tadi. Right on time, I think" senyum Tessa nakal.
Nick tersenyum melihatnya. Tessa masih bertelanjang ketika melompat dari tempat tidur menuju ke coffee maker yang terletak di meja. Sungguh, dunia terlihat lebih cerah bagi Nick bila bersama dengannya.

5 komentar:

  1. Balasan