Kamis, 22 Oktober 2009

cium wanita cium batu bata

Asyik nggak, habis mencium bini orang, lalu mencium bata merah hingga jontor bibirnya? Tapi begitulah resiko orang selingkuh macam Wahyudi, 30. Baru “cucuk-cucukan” macam burung bersama Ny. Indri, 27, tahu-tahu mukanya diasab (dipukul) batu bata merah oleh Dirjo, 32, suami WIL-nya. Ya jontorlah!

Tantangan dan godaan sebuah rumahtangga sangatlah banyak, bisa karena faktor internal dan eksternal, bisa pula faktor materil dan onderdil. Tapi apapun masalahnya, demi tetap tegaknya bangunan keluarga, sepasang suami istri harus mampu menyelamatkannya. Membiarkan mahligai rumahtangga itu hancur, sama saja membiarkan anak-anak bakal jadi korban. Pernahkah membayangkan, anak-anak sibiran daging dan tulang kita, kemudian jatuh dalam asuhan ayah tiri maupun ibu tiri? Padahal kata orang, ibu tiri lebih kejam dari Ibukota.

Indri agaknya tak membayangkan sejauh itu. Meski dia telah memiliki anak satu dari hasil perkawinannya melawan Dirjo sekitar 6 tahun lalu, dia menganggap enteng saja bila perceraian itu harus terjadi. Setelah memiliki PIL bernama Wahyudi, sepertinya dia makin pede saja menghadapi hari-hari ke depan. Apa lagi kekasih baru itu pernah menjanjikan, bahwa Rini, 2, akan dianggap sebagai anak sendiri. “Aku mencintai ibunya, dengan sendirinya harus mencintai anaknya,” begitu kata Wahyudi.

Kontan hati Indri berbunga-bunga, dan semakin sayanglah dia pada sang PIL. Di kala rumahtangganya sedang gonjang-ganjing bersama Dirjo, dia semakin intensif membina asmara cinta bersama Wahyudi. Salah satu bukti, ketika lelaki itu mengajakya kawin siri, langsung saja dilayani. Selanjutnya, keduanya tinggal di rumah kontrakan di kampung Cilung Kecamatan Sukun, Malang (Jatim). Di situlah mereka mereguk dahaga asmara. Bila di Sumbar terjadi gempa 7,6 skala Richter, di kamar Indri – Wahyudi “gempa” itu mencapai angka 9,3 skala Richter, sehingga ranjang pun berderak-derak!

Alangkah sedihnya Dirjo ditinggal istri tanpa berita. Soal dia ditinggalkan Indri, tak begitu menjadi masalah. Tapi ketika si bocah Rini sehari-hari menanyakan ibunya, sungguh siksaan batin bagi pedagang kelontong di Desa Segaran Kecamatan Pakisaji ini. Dia berhari-hari tak sempat dagang, karena harus mencari Indri dan menghibur Rini. Perilaku Dirjo jadi mirip Jaka Tarub ketika ditinggal kabur Dewi Nawangwulan dalam kisah legenda. Dia gendong Rini yang menangis itu ke sana kemari sambil menghiburnya: …..cup cup ajinomoto!

Hari-hari terus berjalan, sampai Dirjo memperoleh data dan gambaran jelas kepergian istrinya. Menurut data intelejen yang diperolehnya, Indri kini sudah kawin siri dengan PIL-nya yang bernama Wahyudi, dan mereka tinggal di rumah kontrakan bilangan kampung Cilung, Kecamatan Sukun. Pusing dua kalilah Dirjo jadinya. Pusing harus menelisik alamat kampung yang begitu luas, pusing pula memikirkan ulah istrinya. Kok bisa-bisanya kawin lagi, wong dengan dirinya juga belum pernah cerai. “Edan, wong wedok kok bojone loro (perempuan kok bersuami dua),” maki Dirjo berkepanjangan.

Seperti detektif partikelir saja laiknya, Dirjo menyisir setiap gang di kampung Cilung. Lama-lama perburuan itu membawa hasil, ketika dia melihat dua makhluk laki perempuan “cucuk-cucukan” bak burung di ruang tamu. Yang membuat jantung Dirjo mau copot, ternyata mereka adalah buronan yang paling dicari selama ini. Perempuan yang “disosor” itu adalah Indri, dan lelaki yang tengah “nyosor” itu adalah Wahyudi. Emosi Dirjo pun meledak, sebuah bata merah ditimpukkan hingga kena mulut Wahyudi.

Aksi mesra-mesraannya diganggu orang, membuat Indri marah. Tak peduli itu suami sendiri, dia langsung balik menyerang bak Srikandi. Perkelahian dua lawan satu itu pun terjadi sampai dilerai tetangga. Tapi ironisnya, ketika polisi turun tangan, justru Dirjo yang digelandang ke sel tahanan. Pasal perzinaan Indri – Wahyudi dikesampingkan, sebaliknya Dirjo dikenakan pasal penganiayaaan dan KDRT. “Tak apalah masuk penjara, yang penting aku sudah menjaga kehormatan rumahtangga,” kata Dirjo di Polsek.

Yang mana? Wong kehormatan istri sudah disosor orang!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar