Kamis, 22 Oktober 2009

“Srikandi” Kepergok Berselingkuh

ISMIATI, 45, memang berjiwa Srikandi, tak mengenal takut, termasuk ketika berselingkuh! Meski kepergok suami, dia tak juga gentar. Justru dia melawan dengan golok. Tapi mana mau lelaki kalah sama perempuan? Johan, 50, berhasil merebut golok itu dan disabetkan ke leher istrinya hingga kiwir-kiwir!

Nggak di Pulau Jawa, nggak di Sumatera, aroma selingkuh masih juga mencemari dan menciderai kesucian bulan Romadon. Di bulan itu mestinya fastakul bikhoirot (berlomba-lomba dalam kebajikan), malah berlomba-lomba buka aurot. Di mana-mana ada kegiatan buka bersama, para kroninya setan ini malah buka-bukaan bersama. Maka kemudian sampailah pada sabda Nabi: “Banyak orang berpuasa yang hanya memperoleh lapar dan dahaga saja.”

Ny. Ismiati yang tinggal di Desa Babat Kecamatan Panukal Kabupaten Muara Enim (Sumatera Selatan), termasuk barisan kroninya setan tersebut. Habis berbuka umumnya pada memikirkan mau salat tarawih di mana, ambil yang sebelas apa 23 rakaat, dia malah berpikir: mau selingkuh di mana ya? Mumpung suami pulang kampung, jadi nggak ada yang tahu. Padahal, meski suami tak tahu tapi Yang Di Atas sana selalu mengetahui, sementara malaikat terus notulen segala kegiatan umat manusia. Baik itu untuk jurusan ke surga maupun ke neraka.

Johan dan Ismiati adalah petani kebun, yang lebih banyak menghabiskan waktunya di ladang manakala musim tanam. Mereka sehari-hari tinggal di perkebunannya, yang terletak di Talang Pesas. Bila perbekalan habis, barulah pasangan itu ambil logistik ke rumah untuk persiapan hari-hari selanjutnya. Beberapa hari lalu Johan kembali ke kampungnya, yang berjarak 6 Km.

Mau balik ke huma (ladang) sepertinya kok sudah kemalaman, sehingga dia memilih tidur saja di kampungnya. Nanti akan kembali menemui istrinya besuk pagi saja. Toh istrinya tak pernah takut di kebun sendirian. Bagaimana Ismiati takut di kebun, karena sesungguhnya juga ada lelaki lain yang menemani. Jadi perginya suami pulang kampung, baginya justru merupakan berkah. Sebab dalam prakteknya, lelaki itu tak hanya menemani tidur, tapi sekaligus juga …..mengencani. Dan Ismiati sangat suka akan itu, karena meski sama-sama petani “cangkulan” Rusdi, 40, jauh lebih dalam dan sangat signifikan.

“Cangkul, cangkul yang dalam, menanam dosa di kebun orang….!” begitu kata setan menyeponsori Rusdi - Ismiati ketika berselingkuh ria. Mungkin karena sudah terlalu biasa mengumbar syahwat bukan pada tempatnya, Rusdi tak pernah takut dalam debut selingkuhnya. Kebanyakan peselingkuh akan segera pergi setelah nafsu tertunaikan, dia malah masih tidur nyenyak di samping Ismiati. Celakanya, istri Johan ini juga membiarkannya saja.

Sepertinya dia sangat bahagia di samping lelaki yang telah diperlakukannya bak suami sendiri tersebut. Padahal…….. Keteledoran Ismiati sungguh dibayar mahal. Sekitar pukul 03.00 suami kembali ke kebun dalam rangka mengajak istri makan sahur. Tapi apa yang terjadi? Begitu dia masuk gubuk terlihatlah istrinya masih dikeloni lelaki asing yang cukup dikenalnya.

Rusdi yang tahu gelagat segera kabur, tapi Ismiati yang merasa diganggu malah marah. Dia ambil golok dan mau diayunkan ke tubuh suami. Tentu saja Johan semakin emosi, golok itu direbutya dan kembali diayunkan ke leher istrinya. Tak ayal lagi, “Srikandi” dari Muara Enim itu langsung tewas di tempat dengan leher kiwir-kiwir nyaris putus. Johan yang sempat kabur, berhasil ditangkap keesokan harinya.

Lagi lagi, bulan puasa kok malah jadi pejuang paha!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar