Kamis, 22 Oktober 2009

pisah ranxcang iparpun jadi

Lebaran 1430 H besok, dipastikan Sumanto, 27, harus “open house” di sel polisi. Itu pun kalau ada keluarga yang membezuknya. Sebab mereka sudah muak akan kelakuannya. Masak sih, di saat pisah ranjang dengan istrinya, tahu-tahu dia menyetubuhi adik iparnya sebanyak 15 kali. Pantesan betah!

Pisah ranjang sebetulnya hal biasa bagi suami istri yang banyak anak. Ketika anak-anak lebih nyaman tidur bersama ibu mereka, biasanya sang ayah memilih ngalah tidur di tempat lain. Kaum bapak takkan merasa ada haknya yang terampas, karena para istri juga selalu pengertian. Ketika suami butuh akan dirinya, tinggal nyusul bergabung di kamar lain. Semua beres, takkan ada yang merasa dirugikan. Di sana senang, di sini juga senang…..

Tapi pisah ranjangnya Sumanto dari Tuban (Jatim) ini memang serius! Meski satu rumah dengan istrinya, Nanik, 25, dia benar-benar tak bisa tidur seperaduan dengan istri. Kalau dia mendekat, pasti disepak macam jangkrik ketemu lawan. “Pokoknya kalau sampeyan belum dapat pekerjaan yang benar, jangan harap bisa tidur seranjang denganku,” ancam Nanik sekali waktu. Mukanya ditekuk, dan wajahnya pun tambah jelek karenanya.

Rupanya persoalan ekonomi yang jadi pemicu kemelut rumahtangga ini. Maunya Nanik, mengingat sudah ada anak istri, mbok iyao Sumanto punya pekerjaan tetap, yang bisa diandalkan gajinya setiap bulan. Jika hanya bekerja serabutan terus, rejeki harian selalu jadi teka-teki. Hari ini keluarga bisa makan kenyang karena Sumanto dapat pekerjaan. Tapi giliran tak dapat pekerjaan, anak istri kelaparan. Nanik tak mau hidup seperti itu.

Kalau selama ini nampak aman-aman saja, karena Sumanto dalam status tinggal di kompleks Mertua Permai. Jika ada kekurangan selalu disubsidi oleh mertua. Nanik malu masih nyusu pada orangtua. Sebaliknya Sumanto yang muka tembok, malah jadi keenakan disubsidi mertoku. Dia sama sekali tak merasa bahwa hidup bak kemladeyan (benalu) adalah sesuatu hal yang memalukan. “Itu bukti bahwa mertua sayang sama mantu seperti saya ini,” kata Sumanto.

Dengkulmu mlocot, paling hanya begitu Nanik ngegerundel. Karena tak mempan segala imbauan, terpaksa Nanik lalu mengembargo. Sejak 6 bulan lalu suami tak boleh tidur seranjang dengan segala “fasilitas”-nya. Awalnya Sumanto merengek-rengek, agar “embargo” itu dicabut. Tapi setelah berlangsung sekian lama, suami Nanik ini malah jadi biasa dan tidak merengek-rengek lagi. Entah karena sudah terkondisikan, entah karena telah menemukan solusi baru.

Ternyata Sumanto memang lelaki kreatif dan sangat inovatif. Tak dapat pelayanan ranjang dari istri, dia kemudian mencari solusi lain. Kebetulan adik iparnya si Narti, 22, juga janda kembang yang tinggal serumah. Nah, diam-diam dia menggerilya sang adik ipar. Begitu mahirnya suami Nanik ini, entah pada rayuan ke berapa, Narti pasrah akan “kehendak” kakak iparnya. Dan di sinilah bedanya. Bila Sumanto Purbalingga makan mayat orang, Sumanto Tuban makan ……adik ipar!

Hubungan layaknya suami istri ini tanpa terasa telah berlangsung sebanyak 15 kali. Narti bisa menikmati karena dijanjikan mau dinikahi. Tapi entah pada “akses” yang ke berapa kalinya, aksi mesum Sumanto kepergok ibu mertuanya. Bingung bagaimana harus mengatasi persoalan anak menantunya, orangtua ini memilih menyerahkan kasus ini ke Polsek Kenduruan. Terpaksalah, di saat Lebaran kurang seminggu Sumanto malah harus tinggalkan kampung mertua di Desa Sidorejo, dan pindah tempat di kantor polisi. Misalkan nanti dia harus “open house” bersama keluarga, ya harus di balik jeruji besi ini.

Open house apaan, yang pasti hati istrinya kayak diopen!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar